Ada kalanya tubuh memberikan sinyal sederhana yang mudah kita abaikan. Salah satunya adalah ketika mata terasa SEpet, PErih, atau LElah. Sekilas memang terdengar seperti keluhan ringan. Namun, ketika muncul di waktu yang tidak tepat, rasa tidak nyaman tersebut ternyata bisa mengganggu aktivitas yang sudah lama dinantikan. Dari pengalaman itu, saya akhirnya sadar bahwa Mata Kering Jangan Disepelein, apalagi jika keluhannya berulang.
Gejala Mata Kering Muncul Saat Momen yang Sudah Lama Dinantikan
Beberapa waktu lalu, saya memiliki sebuah momen yang sudah lama dinantikan. Saya ingin menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat setelah sekian lama hanya sibuk dengan rutinitas masing-masing. Hari itu sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Mulai dari menentukan tempat, menyiapkan pakaian, sampai memastikan semua kegiatan berjalan sesuai rencana.
Sayangnya, beberapa jam sebelum acara dimulai, saya mulai merasakan mata SEpet. Awalnya saya menganggapnya biasa saja. Mungkin karena kurang tidur atau terlalu lama menatap layar. Saya tetap melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Saat perjalanan menuju lokasi, rasa sepet tersebut berubah menjadi PErih. Mata terasa kurang nyaman, terutama ketika terkena angin. Saya juga mulai sering berkedip dan beberapa kali mengucek mata karena terasa mengganggu.
Menurut National Eye Institute, mata kering terjadi ketika mata tidak menghasilkan cukup air mata atau air mata tidak bekerja dengan baik untuk menjaga permukaan mata tetap lembap. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan pada sebagian orang dapat memengaruhi penglihatan.
Mata Lelah Membuat Momen Jadi Kurang Maksimal
Sesampainya di tempat tujuan, seharusnya saya bisa menikmati waktu bersama tanpa memikirkan hal lain. Namun, mata yang mulai LElah membuat konsentrasi saya berkurang. Ketika ingin mengambil foto bersama, saya beberapa kali harus memejamkan mata sebentar karena terasa tidak nyaman.
Hal sederhana seperti menikmati pemandangan, melihat layar ponsel, atau mengobrol sambil menatap lawan bicara menjadi sedikit terganggu. Padahal, momen tersebut sangat berharga dan sudah lama dinantikan.
Dari situ saya memahami bahwa gejala mata kering tidak selalu berupa rasa kering yang jelas. Keluhannya bisa berupa sensasi seperti terbakar atau menyengat, rasa berpasir, mata merah, mata berair, hingga kelelahan mata dan penglihatan yang berubah-ubah.
Apa Penyebab Mata Kering?
Setelah mencari tahu, saya menemukan bahwa penyebab mata kering cukup beragam. Salah satunya adalah terlalu lama menatap layar. Saat fokus pada komputer, tablet, atau smartphone, seseorang dapat berkedip lebih jarang sehingga permukaan mata lebih cepat kehilangan kelembapan. Lingkungan yang berangin, berasap, atau kering juga dapat mempercepat penguapan air mata.
Dalam kasus saya, kebiasaan menatap layar cukup lama sebelum berangkat kemungkinan menjadi salah satu faktor yang membuat mata terasa kurang nyaman. Ditambah perjalanan dan paparan udara, rasa sepet dan perih semakin terasa.
Pengalaman tersebut membuat saya belajar untuk tidak langsung menganggap SePeLe setiap keluhan mata. Ketika tubuh sudah memberikan sinyal berupa mata sepet, perih, atau lelah, sebaiknya kita mulai memperhatikan kebiasaan sehari-hari.
Cara Mengatasi Mata Kering yang Saya Lakukan
Setelah menyadari kondisi mata mulai tidak nyaman, saya mencoba memberikan waktu istirahat untuk mata. Saya mengurangi penggunaan smartphone untuk sementara, menghindari mengucek mata, dan berusaha lebih sering berkedip.
Saya juga memastikan tubuh cukup mendapatkan waktu istirahat. Ketika berada di ruangan ber-AC, saya berusaha tidak duduk tepat di depan aliran udara. Untuk aktivitas yang membutuhkan penggunaan mata dalam waktu lama, memberikan jeda juga membantu mengurangi rasa lelah.
National Eye Institute menyebutkan bahwa air mata buatan atau artificial tears yang tersedia tanpa resep dapat digunakan sebagai salah satu langkah untuk membantu meredakan gejala mata kering. Istirahat dari aktivitas visual yang terlalu lama dan menghindari kondisi lingkungan yang terlalu kering juga dapat membantu.
Menemukan Insto Dry Eyes
Di tengah rasa tidak nyaman itu, saya kemudian mencari informasi mengenai tetes mata yang dapat membantu mengatasi mata kering. Dari beberapa pilihan yang saya temukan, saya mengenal Insto Dry Eyes. Setelah membaca informasi penggunaan produknya dan memastikan sesuai untuk keluhan yang saya alami, saya mencobanya.
Bagi saya, penggunaan tetes mata menjadi salah satu bagian dari usaha untuk membuat mata terasa lebih nyaman ketika mengalami gejala kekeringan. Sensasi tidak nyaman yang sebelumnya membuat saya ingin terus memejamkan mata terasa lebih terkendali, sehingga saya bisa kembali menikmati momen bersama orang-orang terdekat.
Namun, pengalaman tersebut juga mengajarkan bahwa tetes mata bukan alasan untuk mengabaikan keluhan yang terus berulang. Jika mata terasa sangat sakit, penglihatan berubah atau menjadi kabur, mata sangat merah, atau keluhan tidak membaik, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan. National Eye Institute juga menyarankan mencari bantuan medis ketika terdapat nyeri mata yang intens atau perubahan penglihatan.
Jangan Tunggu Sampai Mengganggu Momen Berharga
Dari kejadian tersebut, saya mendapat pelajaran sederhana: jangan menunggu mata terasa sangat tidak nyaman baru mulai memperhatikannya. Kebiasaan kecil seperti memberikan jeda dari layar, lebih sering berkedip, menghindari paparan angin atau udara terlalu kering, serta menggunakan tetes pelumas mata yang sesuai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kenyamanan mata.
Momen yang sudah lama dinantikan seharusnya diisi dengan cerita, tawa, dan kenangan, bukan sibuk menahan rasa perih atau mata lelah. Karena itu, ketika mulai merasakan Mata SEpet, PErih, atau LElah, saya sekarang tidak lagi langsung menganggapnya sebagai gangguan kecil.
Buat saya, inilah arti sebenarnya dari pesan #InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein: mengenali sinyal dari mata, menjaga kebiasaan sehari-hari, dan mengambil langkah yang tepat sebelum rasa tidak nyaman mengganggu aktivitas yang berarti.